PERAN ADMINISTRASI BISNIS DALAM PEMBANGUNAN BANGSA
Studi administrasi bisnis bukan merupakan suatu bidang yang baru,
melainkan telah dikenal sejak lama; dahulu barangkali masih dinamakan
administrasi niaga. Akan tetapi, posisi ilmu administrasi bisnis dewasa
ini kerap menjadi rancu, seolah-olah terjadi over-lapping dengan ilmu
manajamen. Inilah tema yang ingin dikupas dalam tulisan singkat ini.
Ini penting untuk dipahami, agar kita dapat melihat dengan lebih jelas
dimana sebenarnya posisi administrasi bisnis itu sendiri, dan dengan
demikian dapat mendefinisikan domain atau wilayah kajian yang sebenarnya
dari disiplin ilmu ini.
Selain itu, secara praktis, ini berimplikasi kepada perumusan
gagasan-gagasan yang lebih tajam dan inovatif, dimana administrasi
bisnis perlu mengembangkan pemikiran yang sesuai dengan bidang
kajiannya, yakni memberikan kerangka ilmiah kepada aktivitas bisnis yang
berkembang di masyarakat. Ini penting sebagai bentuk sumbangan nyata
dunia akademis kepada masyarakat.
Administrasi dan Manajemen
Mengapa harus dibedakan antara administrasi dan manajemen? Tentu saja,
karena pada hakekatnya keduanya adalah bidang yang terpisah dan memiliki
fokus penerapan yang berbeda pula pada level praktek. Kedua hal ini
diperlukan dalam mengelola organisasi, termasuk di bidang bisnis, karena
masing-masing menyumbangkan peran tersendiri. Namun, sekali lagi,
administrasi dan manajemen adalah dua hal yang berbeda. Untuk
organisasi-organisasi bisnis kita dapat menerapkan pembedaan berikut
ini:
Administration is the function of industry concerned with the
determination of corporate policy, co-ordination of production, finance
and distribution, the settlement of the compass of the organization and
the ultimate control of the executive… Management is the function of
industry concerned with the carrying out of policy within the limits set
up by administration and the employment of the organization for
particular objects set before it (Sheldon, 1924; Urwick, 1929, 115-116;
Dunsire, 1973, 43).
Jadi, dalam organisasi bisnis, administrasi adalah fungsi industri yang
berkaitan dengan penetapan kebijakan perusahaan, koordinasi produksi,
keuangan
dan distribusi, penentuan arah organisasi dan kontrol tertinggi
eksekutif. Singkatnya, administrasi bertugas menentukan setting bagi
perusahaan untuk bergerak maju. Sementara, manajemen adalah fungsi dari
organisasi yang bertugas melaksanakan kebijakan dalam batas-batas yang
ditetapkan administrasi dan menggerakkan sumberdaya organisasi ke arah
tujuan-tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya.
Pemahaman terhadap perbedaan yang mendasar antara administrasi dan
manajemen ini, bukan sekedar upaya untuk membedakan satu bidang ilmu
dengan bidang ilmu lain yang secara kebetulan memiliki kemiripan. Di
dalam perbedaan tersebut terdapat konsekuensi praktis maupun teoritis,
sehingga perlu dicermati untuk menghindari kerancuan antara satu bidang
ilmu dengan bidang ilmu lainnya.
Salah satu contoh lain, kita dapat melihat perbedaan berikut ini:
- In business, administration consists of the performance of business
operations and thus the making or implementing of major decisions.
Administration can be defined as the universal process of organizing
people and resources efficiently so as to direct activities toward
common goals and objectives.
- In some organisational analyses, management is viewed as a subset of
administration, specifically associated with the technical and mundane
elements within an organization's operation. It stands distinct from
executive or strategic work. (WIKIPEDIA DICTIONARWIKIPEDIA DICTIONARY)
Di sini dapat dicermati adanya pemisahan yang jelas antara fungsi
administrasi dan fungsi manajemen dalam bisnis. Bahwa dalam bidang
bisnis, administrasi adalah mencakup penyelenggaraan operasi-operasi
bisnis, yakni membuat dan mengimplementasikan keputusan-keputusan besar
(major decision) bagi organisasi.
Sebaliknya, manajemen dapat dipandang adalah bagian (subset) atau
perpanjangan tangan administrasi, khususnya berkaitan dengan unsur-unsur
teknis dan keseharian di dalam operasi organisasi. Manajemen berdiri
terpisah dari tugas eksekutif dan strategik yang merupakan tugas pokok
administrasi. Oleh karena itu, administrasi dapat didefinisikan sebagai
suatu proses universal yang mengorganisasikan manusia dan sumberdaya
secara efisien, sedemikian rupa sehingga mengarahkan kegiatan-kegiatan
organisasi kepada sasaran-sasaran dan tujuan bersama.
Kita dapat memahami bahwa di tingkat praktek barangkali akan sulit
menarik garis pemisah yang tegas antara administrasi dan manajemen.
Kedua-duanya difungsikan untuk menggerakkan organisasi mencapai
tujuan-tujuannya, dan kedua-duanya dimaksudkan untuk mengelola
sumberdaya organisasi (baik faktor manusia maupun material)
sebaikbaiknya. Seolah-olah keduanya berbaur menjadi satu pada level
praktek. Namun, setidaktidaknya perbedaan ini harus diperlihatkan dengan
jelas pada level teoritik atau kajian keilmuan. Ini dimaksudkan agar
tidak terjadi kerancuan atau salah menempatkan posisi bidang ilmu.
Hodgkinson (1978: 5) sangat perhatian terhadap persilangan posisi ini.
Ia mendefinisikan administrasi sebagai: ”those aspects dealing more with
the formulation of purspose, the value-laden issues, and the human
component of organizations”. Sementara manajemen diartikan, “those
aspects wich more routine, definitive, programmatic, and susceptible to
quantitative methods.” Jadi, administrasi adalah aspek-aspek yang lebih
berurusan dengan penetapan arah organisasi, sementara manajemen
mengurusi bagaimana mencapai arah yang telah ditetapkan tersebut. Oleh
karena itu Hodgkinson meletakkan administrasi pada level atas (para
pengambil keputusan tertinggi dalam organisasi), sementara manajemen ada
pada level menengah-bawah.
Administrasi berorientasi pada tujuan (end-oriented) sementara manajemen
berorientasi pada sarana atau cara (means-oriented). Dia mengutip pula
Herbet A. Simon (1957), yang dalam bukunya Administrative Behavior
mendefinisikan adminsitrasi secara amat simpel sebagai “the art of
getting things done”. Kendati ringkas, namun pengertian ini memadai
karena menekankan administrasi sebagai seni (art), sementara manajemen
lebih dekat kepada teknis (science). Sampai di sini kita bisa menarik
sebuah kesimpulan, bahwa titik-berat ilmu administrasi bisnis adalah
memimpin bisnis, dalam arti menetapkan arah dan mengelola proses
organisasi secara makro untuk mendapatkan hasil yang seoptimal mungkin
dari sumberdaya yang ada.
Kemampuan seorang administrator bisnis bukan semata-mata diukur dari
seberapa efisien dan efektif ia memimpin, melainkan pertanyaan yang
lebih mendasar: apakah arah kepemimpinannya akan membawa suatu bisnis ke
arah yang tepat, atau tidak? Apakah ia mampu menggunakan seni
kepemimpinannya untuk menggerakan unsur manusia dalam organisasi, atau
tidak? Apakah ia mampu merefleksikan posisi organisasi di dalam
lingkungan operasionalnya dan menetapkan strategi yang tepat, atau
tidak? Singkatnya, semua ini adalah ukuran-ukuran kualitatif dari suatu
proses bisnis. Sementara seorang manajer tidak dituntut demikian,
melainkan lebih pada pertanggung-jawaban terhadap penggunaan sumberdaya
secara efektif dan efisien.
Dengan kata lain, alat ukurnya adalah metode kuantitatif. Apa implikasi
dari perbedaan tugas dan tanggung-jawab tersebut? Jika dilihat dari
sudut-pandang keilmuan, berarti mereka yang mempelajari ilmu
administrasi bisnis harus mengenal dan menguasai hal-hal yang diperlukan
oleh seorang administrator dalam mengelola bisnis. Tentu saja,
perangkat-perangkat teknis yang diperlukan untuk menjalankan organisasi
bisnis perlu dikuasai, yang dalam hal ini adalah ilmu manajemen bisnis.
Namun yang lebih mendasar, bahwa pengelolaan bisnis di tangan seorang
administrator membutuhkan pula pemahaman terhadap
kepemimpinan,
pengambilan keputusan, dan penentuan strategi organisasi. Inilah fokus
perhatian yang tidak boleh ditinggalkan atau dilupakan dalam mempelajari
administrasi bisnis.
Profil Entrepreneurship
Kalau kita sepakat bahwa administrasi bergerak pada upper level dan
terutama bersifat kebijakan, dan bahwa tugas dan fungsi administrator
dalam bisnis adalah pada level strategik dan outward-looking, maka
gagasan ini membawa kita pada premis berikutnya: bahwa “adminsitrator
tidak lain adalah seorang pemimpin”. Dan, jika dipahami dari perspektif
bisnis, seorang pemimpin dibedakan dari manajer adalah dari aspek visi
dan jiwa entrepreneurship.
Seorang pemimpin bisnis tidak akan membawa manfaat yang berarti bagi
organisasi bisnis yang dikelolanya, kecuali ia memiliki semangat
entrepreneurship yang tinggi. Dia harus memiliki wawasan atau horizon
pandangan yang luas, berani mengambil keputusan yang sulit atau melawan
arus, melihat jauh ke depan, dan tentu saja harus kaya dengan ide-ide
orisinil dan segar. Tanpa kemampuan dan daya inovatif yang kuat, seorang
pemimpin bisnis akan tertinggal dalam persaingan, dan tidak mampu
membaca atau melihat peluang yang tersedia pada market. Organisasinya
akan berada pada urutan belakang, atau sekedar pengekor dari yang sudah
ada.
Warren Bennis (1989), On Becoming a Leader, menjelaskan perbedaan manajer dan leader sebagai berikut:
- Tugas manajer mengelola, tugas pemimpin melakukan inovasi
- Manajer adalah copy, pemimpin adalah orisinal
- Manajer berfokus sistem dan struktur organisasi; pemimpin berfokus pada unsur manusia ( people )
- Manajer menitik-beratkan kontrol; pemimpin menekankan kepercayaan (trust)
- Manajer mengambil sudut pandang jangka pendek, pemimpin melihat perspektif jangka panjang.
- Manajer memperhatikan ke dalam dan tugas keseharian (bottom-line); pemimpin melihat keluar dan mencari visi ( horizon )
- Manajer cenderung meniru (imitates); pemimpin membuat hal baru (originates)
- Manajer menerima status quo; pemimpin menantang status quo
administrator membutuhkan pula pemahaman terhadap kepemimpinan,
pengambilan keputusan, dan penentuan strategi organisasi. Inilah fokus
perhatian yang tidak boleh ditinggalkan atau dilupakan dalam mempelajari
administrasi bisnis.
- Manajer adalah pelaksana yang baik (classic good soldier); pemimpin adalah pribadi tersendiri.
10. Manajer memikirkan bagaimana melakukan hal-hal secara benar (does things right);
Pada tataran ideal inilah seharusnya mereka yang mempelajari
administrasi bisnis menempatkan dirinya. Pemahaman yang mendalam
mengenai apa dan siapa itu entrepreneur merupakan dasar dalam memahami
kajian administrasi bisnis. Termasuk di sini barangkali salah-paham yang
kerap terjadi ketika orang mendengar kata ”wiraswasta” atau
”wirausahawan”, dan membayangkan sosok seorang pengusaha kecil yang
bergelut dengan kegiatan-kegiatan bisnis berskala minimal, katakanlah
UKM (Usaha Kecil dan Menengah). Pandangan ini tidak seratus persen
salah, tapi dapat menyesatkan. Pada intinya, kewiraswastaan atau
entreprenurship bukan masalah besar atau kecilnya usaha, melainkan pada
karakteristik khusus yang menandai cirinya sebagai tipikal seorang
pemimpin bisnis. Artinya, jika ia seorang wirausahawan sejati maka pada
suatu ketika bisnis yang ia kembangkan pasti akan meningkat atau
menanjak, dan tidak menutup kemungkinan mencapai skala besar.
Bill Gates barangkali salah satu sosok wirasuhawan kontemporer yang saat
ini paling dikenal, karena terhitung telah menjadi orang terkaya di
dunia (konon dia memulai bisnisnya dari ruang garasi). Tekad dan
kegigihan seorang pemimpin bisnis inilah yang seharusnya menjadi ranah
administrasi bisnis. Tentu saja, semua ini dalam konteks studi atau
kajian akademis, bukan biografi atau sekedar cerita suka-duka seorang
bisnisman mengembangkan usahanya. Jadi, titik-berat kepada pendalaman
mengenai hakekat kewirasuhaan itulah yang perlu ditekankan, kendati
tidak semua mereka yang belajar administrasi bisnis akan menjadi
wirausaha. Ini sekedar untuk menekankan domain utama disiplin ilmu kita,
yakni menekankan pada aspek adminsitrasi sebagai penentu atau leader
dalam organisasi bisnis.
Sumber : http://www.sarjanaku.com/2010/01/makalah-peran-administrasi-bisnis-dalam.html